Oleh: Syarifudin
Sesungguhnya gaya hidup seseorang sangat
ditentukan bagaimana ia memandang hidup ini, oleh sebab itu perubahan gaya
hidup sangat ditentukan kemampuan cara memahami pesan Allah dan Rasulunya.
Landasan hidup umat islam jika ingin menjadi mulia maka masuklah Islam secara
kaffah. Menjadi Islam sebagai Way of livet, roll of thinking, state of maind.
Memotret pemandangan hidup ini, keindahannya
sangat tergantung pada ketangkasan memotret kehidupan. Semakin canggih
keseimbangan dalam memotret semakin indah tampilan photo prilaku di tengah
masyarakat.
Hadirin
yang berbahagian
*
}§ø©9
§É9ø9$#
br&
(#q9uqè?
öNä3ydqã_ãr
@t6Ï%
É-Îô³yJø9$#
É>ÌøóyJø9$#ur
£`Å3»s9ur
§É9ø9$#
ô`tB
z`tB#uä
«!$$Î/
ÏQöquø9$#ur
ÌÅzFy$#
Ïpx6Í´¯»n=yJø9$#ur
É=»tGÅ3ø9$#ur
z`¿ÍhÎ;¨Z9$#ur
tA#uäur
tA$yJø9$#
4n?tã
¾ÏmÎm6ãm
Írs
4n1öà)ø9$#
4yJ»tGuø9$#ur
tûüÅ3»|¡yJø9$#ur
tûøó$#ur
È@Î6¡¡9$#
tû,Î#ͬ!$¡¡9$#ur
Îûur
ÅU$s%Ìh9$#
uQ$s%r&ur
no4qn=¢Á9$#
tA#uäur
no4q2¨9$#
cqèùqßJø9$#ur
öNÏdÏôgyèÎ/
#sÎ)
(#rßyg»tã
(
tûïÎÉ9»¢Á9$#ur
Îû
Ïä!$yù't7ø9$#
Ïä!#§Ø9$#ur
tûüÏnur
Ĩù't7ø9$#
3
y7Í´¯»s9'ré&
tûïÏ%©!$#
(#qè%y|¹
(
y7Í´¯»s9'ré&ur
ãNèd
tbqà)GßJø9$#
ÇÊÐÐÈ
Hadirin
yang berbahagian
177. bukanlah menghadapkan wajahmu ke
arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan
itu ialah:
1.
Beriman kepada Allah (Hari Kemudian, Malaikat-malaikat, Kitab-kitab, dan Nabi-nabi)
2.
Memberikan harta yang dicintainya kepada
kerabatnya,
3.
Anak-anak yatim, Orang-orang miskin,
4.
Musafir (yang memerlukan pertolongan)
dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan), Hamba sahaya,
5.
Mendirikan shalat,
6.
Dan menunaikan zakat; dan
7.
Orang-orang yang menepati janjinya Apabila
ia berjanji, dan
8.
Orang-orang yang sabar dalam kesempitan,
9.
Penderitaan dan dalam peperangan. Mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah
orang-orang yang bertakwa.
Hadirin
yang berbahagian
Dalam sebuah riwayat dari Al-Baihaqi dalam ‘Syu’bul Iman’ ada
empat prinsip etos kerja yang diajarkan Rasulullah. Keempat prinsip itu harus
dimiliki kaum beriman jika ingin menghadap Allah dengan wajah berseri bak bulan
purnama.
1.
Pertama, thalaba ad-dunya halalan (bekerja
secara halal). Pengertian halal dalam ilmu fiqih terbagi menjadi ‘haram lighairihi’ dan
‘haram lidzatihi’. Dimodifikasi bagaimanapun ia tetap haram. Keharamannya bukan
karena faktor dari luar, melainkan jenis pekerjaan itu memang ‘haram lidzatihi’.
2.
Kedua, ta’affufan an al-mas’alah. (bekerja
demi menjaga diri supaya tidak menjadi beban hidup orang lain) Kaum beriman dilarang menjadi
benalu bagi orang lain. Rasulullah pernah menegur seorang sahabat yang muda dan
kuat tetapi pekerjaannya mengemis. Beliau kemudian bersabda, “Sungguh orang yang
mau membawa tali atau kapak kemudian mengambil kayu bakar dan memikulnya di
atas punggung lebih baik dari orang yang mengemis kepada orang kaya, diberi
atau ditolak” (HR Bukhari dan Muslim). Dengan demikian, setiap pekerjaan asal
halal adalah mulia dan terhormat dalam Islam. Lucu jika masih ada orang yang
merendahkan jenis pekerjaan tertentu karena dipandang remeh dan hina. Padahal
pekerjaan demikian justru lebih mulia dan terhormat di mata Allah ketimbang
meminta-minta.
3.
Ketiga, bekerja demi mencukupi kebutuhan
keluarga (sa’yan
ala iyalihi). Mencukupi kebutuhan keluarga hukumnya fardlu ain.
Tidak dapat diwakilkan, dan menunaikannya termasuk kategori jihad. Hadis
Rasulullah yang cukup populer, “Tidaklah seseorang memperoleh hasil terbaik
melebihi yang dihasilkan tangannya. Dan tidaklah sesuatu yang dinafkahkan
seseorang kepada diri, keluarga, anak, dan pembantunya kecuali dihitung sebagai
sedekah” (HR Ibnu Majah). Tegasnya, seseorang yang memerah keringat dan
membanting tulang demi keluarga akan dicintai Allah dan Rasulullah. Ketika
berjabat tangan dengan Muadz bin Jabal, Rasulullah bertanya soal tangan Muadz
yang kasar. Setelah dijawab bahwa itu akibat setiap hari dipakai bekerja untuk
keluarga, Rasulullah memuji tangan Muadz seraya bersabda, “Tangan seperti
inilah yang dicintai Allah dan Rasul-Nya”.
4.
Keempat, ta’aththufan ala jarihi (bekerja untuk meringankan beban hidup
tetangga). Penting
dicatat, Islam mendorong kerja keras untuk kebutuhan diri dan keluarga, tetapi
Islam melarang kaum beriman bersikap egois. Islam menganjurkan solidaritas sosial,
dan mengecam keras sikap tutup mata dan telinga dari jerit tangis lingkungan
sekitar. “Hendaklah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah
sebagian harta yang Allah telah menjadikanmu berkuasa atasnya.” (Qs Al-Hadid:
7). Lebih tegas, Allah bahkan menyebut orang
yang rajin beribadah tetapi mengabaikan nasib kaum miskin dan yatim sebagai
pendusta-pendusta agama (Qs Al-Ma’un: 1-3). Itu karena tidak dikenal istilah
kepemilikan harta secara mutlak dalam Islam. Dari setiap harta yang Allah
titipkan kepada manusia, selalu menyisakan hak kaum lemah dan papa. Demikianlah,
dan sekali lagi, kemuliaan pekerjaan sungguh tidak bisa dilihat dari jenisnya.
Setelah memenuhi empat prinsip di atas, nilai sebuah pekerjaan akan diukur dari
kualitas niat (shahihatun fi an-niyat) dan
pelaksanaannya (shahihatun fi at-tahshil). Itulah
pekerjaan yang bernilai ibadah dan kelak akan mengantarkan pelakunya ke pintu
surga.
Hadirin
yang berbahagian
Menurut Toto Tasmara, Etos kerja adalah totalitas kepribadian dirinya
serta caranya mengekspresikan, memandang, meyakini, dan memberikan makna ada
sesuatu, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal
sehingga pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan antara manusia dengan
makhluk lainnya dapat terjalin dengan baik. Etos kerja berhubungan dengan
beberapa hal penting seperti:
1.
Melalui puasa kita berlatih untuk merancang orientasi ke
masa depan, agar lebih baik dari kemarin.
2.
Melalui puasa kita menghargai waktu dengan adanya disiplin
waktu merupakan hal yang sangat penting guna efesien dan efektivitas bekerja.
3.
Melalui puasa kita tradisikan hemat dan sederhana, yaitu
sesuatu yang berbeda dengan hidup boros, sehingga bagaimana pengeluaran itu
bermanfaat untuk kedepan.
4.
Persaingan sehat, yaitu dengan memacu diri agar pekerjaan
yang dilakukan tidak mudah patah semangat dan menambah kreativitas diri akibat
hati kita selalu terpaut dengan Allah swt.
Meneladani Etos Kerja Rasulullah SAW menjadikan kerja sebagai aktualisasi
keimanan dan ketakwaan. Apa rahasia kesuksesan karier dan
pekerjaan Rasulullah SAW?
1.
Pertama, Rasul selalu bekerja dengan
cara terbaik, profesional, dan tidak asal-asalan. Beliau bersabda, "Sesungguhnya
Allah menginginkan jika salah seorang darimu bekerja, maka hendaklah
meningkatkan kualitasnya".
2.
Kedua, dalam bekerja Rasul melakukannya
dengan manajemen yang baik, perencanaan yang jelas, pentahapan aksi, dan adanya
penetapan skala prioritas.
3.
Ketiga, Rasul tidak pernah
menyia-nyiakan kesempatan sekecil apapun. "Barangsiapa yang dibukakan
pintu kebaikan, hendaknya dia mampu memanfaatkannya, karena ia tidak tahu kapan
ditutupkan kepadanya," demikian beliau bersabda.
4.
Keempat, dalam bekerja Rasul selalu
memperhitungkan masa depan. Beliau adalah sosok yang visioner, sehingga segala
aktivitasnya benar-benar terarah dan terfokus.
5.
Kelima, Rasul tidak pernah menangguhkan
pekerjaan. Beliau bekerja secara tuntas dan berkualitas.
6.
Keenam, Rasul bekerja secara berjamaah
dengan mempersiapkan (membentuk) tim yang solid yang percaya pada cita-cita
bersama.
7.
Ketujuh, Rasul adalah pribadi yang
sangat menghargai waktu. Tidak berlalu sedetik pun waktu, kecuali menjadi nilai
tambah bagi diri dan umatnya. Dan yang terakhir, Rasulullah SAW menjadikan
kerja sebagai aktualisasi keimanan dan ketakwaan. Rasul bekerja bukan untuk
menumpuk kekayaan duniawi. Beliau bekerja untuk meraih keridhaan Allah SWT.
Inilah kunci terpenting. Semoga Allah SWT memberikan kemampuan, kekuatan,
ketabahan, keuletan, dan keimanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar